14 Agt 2010

Angkuy dan Nobie, Merevolusi Paham Bermusik

Angkuy dan Nobie, Merevolusi Paham Bermusik
Harian Kompas | Sabtu, 14 Agustus 2010 | 02:56 WIB

undefined

Oleh Yulvianus Harjono

Awal Mei 2010 lalu, publik musik indie Tanah Air dibuat terenyak. Band indie asal Bandung, Bottlesmoker, yang baru berdiri lima tahun, menorehkan prestasi mengilap dalam ajang Penghargaan Musik Independen Asia Pasifik atau AVIMA 2010 di Manila, Filipina.

Sebagai satu-satunya band yang mewakili Indonesia pada ajang kompetisi musik indie terbesar se-Asia Pasifik itu, Bottlesmoker yang beranggotakan Anggung Suherman (Angkuy) dan Ryan Adzani (Nobie) itu meraih emas dalam kategori aksi musik elektro terbaik.

Padahal sebelumnya, di Tanah Air, keberadaan band indie yang biasa mengusung jenis musik elektro atau digital ini hanya dipandang sebelah mata.

”Dulu, kami kerap dicibir karena bukan dianggap band. Bahkan, pernah hanya dianggap musisi Winamp (peranti lunak pemutar lagu),” kata Angkuy.

Bagi kebanyakan musisi, sekalipun itu yang beraliran elektro, musik yang dikerjakan kedua alumnus Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran ini memang tak lazim. Keduanya menciptakan lagu-lagu berupa instrumen-instrumen musik dari kamar indekos, bukan studio dengan perlengkapan rekaman digital.

Selain itu, tak satu pun alat musik mereka mainkan untuk menghasilkan instrumen-instrumen yang indah. ”Sejatinya, alat bermusik kami hanya satu, yaitu laptop. Kami merangkai nada-nada menjadi lagu lewat Fruity Loop (sejenis peranti lunak). Di dalamnya sudah ada efek-efek alat musik, baik drum, bas, dan lain-lain,” ungkap Angkuy.

Namun, saat tampil di panggung Angkuy dan Nobie kerap memainkan alat-alat musik unik dari jenis electro pop toy atau mainan anak-anak seperti keyboard dan piano mainan, bel tangan, pianika, dan glockenspiel.

Alat-alat itu biasanya mereka dapatkan dari penjual barang bekas. Ketika pentas di luar negeri, Nobie dan Angkuy selalu menyempatkan diri mampir ke toko mainan atau barang bekas.

”Suara yang dihasilkan alat-alat itu sangat unik. Ini sesuai dengan jenis musik yang kami mainkan lewat Fruity Loop,” ucap Nobie.

Kritik aliran kemapanan

Namun, apa yang mereka kerjakan itu sebetulnya merupakan bentuk perlawanan dan kritik terhadap aliran kemapanan pada sebagian musisi digital atau elektro di Tanah Air.

”Menciptakan musik yang asyik tidak perlu harus lewat alat-alat mahal hingga miliaran rupiah. Kita tendang jauh-jauh doktrin bermusik elektro itu harus mahal. Kalau belum-belum bingung biaya, bagaimana kita bisa berkarya?” kata Angkuy.

Di kamar indekos mereka yang sederhana, berukuran 3 x 3 meter, di kawasan Tubagus Ismail, Bandung, mereka menciptakan musik-musik orisinal yang diterima luas di mancanegara. Apa yang mereka kerjakan itu sering disebut bedroom music. Sindentosca yang menghasilkan lagu ”Kepompong” misalnya, termasuk band bedroom music.

Memanfaatkan situs jejaring sosial seperti Multiply, MySpace, dan Twitter, band yang berdiri tahun 2005 ini punya banyak penggemar, mayoritas berasal dari luar negeri. Tawaran manggung mereka dapatkan antara lain dari Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Album pertama mereka, Before Circus Over, juga dirilis di luar negeri, di bawah netlabel Spanyol, Neo Vinyl Records, pada 2006. Album keduanya, Slow Mo Smile, dikerjakan netlabel asal Amerika Serikat, Probably Worse, tahun 2008. Tawaran membuat album lalu datang dari Australia, Rusia, China, dan Jerman.

Uniknya, musik dan album yang mereka miliki tak dikomersialkan. Bottlesmoker dikenal sebagai salah satu band yang membagikan musik gratis. ”Seluruhnya gratis, free music share. Kepuasan kami adalah kalau musik kami diterima dan dinikmati banyak orang,” kata Nobie.

Mereka juga membebaskan orang mengunduh musiknya. Bahkan, keduanya ikut memopulerkan pola SASE (self-addressed stamped envelope). Artinya, mereka bersedia mengirimkan album atau lagu selama penggemar menyertakan surat, prangko, alamat, dan CD kosong.

Kampanye peluk

Lewat single ”Free Hugs”, Bottlesmoker aktif terlibat dalam jaringan kampanye dunia yang dipopulerkan Juan Mann, Free Hugs (pelukan bebas). Kampanye sosial itu menyebar di 36 negara. ”Lewat kampanye ini kami ingin memberi pesan, pelukan dari seseorang bisa menjadi obat dari segalanya. Jika tengah depresi, sebuah pelukan bisa menenangkan,” kata Angkuy.

Ajakan untuk bersahabat dan memberikan pelukan hangat kepada siapa saja, tanpa membedakan status, ras atau suku, dan agama ini tertuang dalam lagu ”Free Hugs” yang bernada riang dan ceria, penuh entakan bersemangat. Namun, lazimnya karya Bottlesmoker lainnya, tak ada lirik di sini. Menurut Angkuy, ini guna memberikan kebebasan kepada pendengar untuk memahami makna lagu.

Berkat keunikan dan visi bermusiknya, Bottlesmoker mendapat banyak penghargaan. Akhir Juni lalu, duo ini meraih penghargaan ICT Indonesia (INAICTA) untuk kategori musik digital. Sebulan sebelumnya, mereka masuk nominasi Indonesia Cutting Edge Music Award (ICEMA) 2010.

Lewat lembaga Common Room yang dipenuhi para insan kreatif di Kota Bandung, Angkuy dan Nobi juga aktif memotori workshop dan diskusi dengan peminat ataupun sesama musisi bedroom music. Tujuannya, melahirkan lebih banyak musisi yang mampu mendunia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar